Powered By Blogger

11 Februari 2010

SEPANJANG BRAGA

Aku tidak tahu apakah harus menyesal atau tidak. Tapi nyatanya, dibutuhkan waktu sepuluh tahun dan seratus buah lukisan untuk akhirnya membuat aku sadar.
"Anda suka?" Pengunjung di sebelahku mengawasiku.
"Aku? Ah... ya!" Suaraku baur, ada keraguan dan keterkejutan. Kupikir, terlalu lama aku terpaku.
"Lukisan ini memang bagus!" Nadanya menyerupai gumaman.
Aku mengangguk tercekat. Lantas kurasakan langit dalam lukisan membagi tempias hujan, mengiris dingin. Gigil menyergap.
"Pakailah jaket!" Kudengar suaramu dari masa lalu.
"Aku nggak dingin kok!" Tapi kukenakan juga jaket biru milikmu. Kamu membantu memasangkan topi.
Dan kemudian, di bawah gerimis yang menusuk, kita susuri Jalan Braga.
Ya, seperti juga mungkin harapanmu, bagiku, peristiwa itu perjalanan mimpi. Ratusan almanak berguguran, dan sepanjang musim aku hanya bisa menyebut namamu dengan sejumlah ragu.
"Kamu mengenalnya?" Dhani, sahabatku di SMA sempat menatapku tak percaya ketika aku sedikit bisa bercerita tentangmu. Sebagai pengagum berat karya-karyamu, ini 'kejutan besar' bagi dia.
Dan aku mengangguk, ragu. Bukankah kamu selalu menyebutku 'Adik Manis'?
"Ia... ia kakak yang baik!"
Sangat baik, kupikir. Aku tidak bisa melupakan saat Pak Pos tiba pagi-pagi di depan pintu. Ia mengantarkan bingkisan besar. Sebuah lukisan berjudul 'Prosa Perjalanan'. Di sudutnya, ada kartu kecil bertuliskan:
"Selamat ulangtahun, Adik Manis/Panjang usia, bahagia, pintar, dan bijaksana/Kado ini hanya bayang-bayang/Bandung, Juli 1988." Lantas, ada tanda tanganmu, ada stempel KKN-Unpad 1988 di baliknya.
Aku bahagia benar menerimanya. Antara percaya dan ragu, inilah kenyataan itu. Kamu, pelukis muda yang diperhitungkan di negeri ini, melukis khusus di tengah kesibukan KKN, hanya untuk menandai ulangtahunku. Ini kado istimewa menurutku, tapi anggapan itu kukubur rapat-rapat di batin.
"Ia kakak yang baik," berulang-ulang aku harus meyakinkan Dhani.
Berkali-kali, ia tampak demikian ingin mendengar aku bercerita banyak tentangmu. Ia cemburu. Aku — sahabatnya, yang tidak lebih baik dan cantik dibanding dia, mendapatkan kado khusus dari seorang pelukis ternama. Aku pikir, aku bukan pengidap megalomania. Maka selalu saja kuendapkan sensasi dalam-dalam. Aku berjanji untuk tidak membagi pengalaman batinku pada Dhani, juga pada siapa pun.
Aku punya alasan untuk tidak sekadar memancing cemburu Dhani. Di SMA kami, mendapatkan tanda tangan seorang artis penyanyi saja, bangganya bukan main. Aku hanya malu membayangkannya. Malu pada diri sendiri. Bayangkan, aku tidak mengenal kamu, selain melalui; foto dan berlembar-lembar surat. Waktu itu, seperti juga Dhani, aku mengagumi beberapa lukisanmu yang kutemui pada sebuah pameran di Jakarta. Lantas, sepulang ke Makassar setelah liburan sekolah itu, kukirim surat ke alamatmu. Disertai lukisan sederhana. Aku merasa sedikit bisa melukis — dan kini menyatakan niat besar untuk belajar banyak padamu.
Tak dinyana, engkau membalas dengan surat panjang. Benar-benar panjang, ada mungkin semeter. Meskipun lebar kertasnya tak lebih dari sepuluh senti. Aku pegal membacanya, tapi juga merasakan sensasi luar biasa. Kamu memuja-muja lukisanku — menyebutnya mirip goresan Vassily Kandinsky.
"Kamu sungguh berbakat, Adik Manis!" tulismu.
Dan, dadaku serasa pecah.

Ketika aku menginjak bangku kuliah, kutemukan hubungan kita dalam bentuknya yang paling manis. Tiba-tiba saja aku merasa bahwa tidak ada gunanya pacaran. Buat apa? Aku memiliki seorang kakak yang sangat baik, yang memperhatikanku sedemikian rupa. Yang surat-suratnya menenteramkan. Yang mengirimi aku doa seperti sarapan pagi.
"Jangan sakit, ya! Jangan bikin Mas khawatir. Salam sayang dari jauh." Kamu selalu mengakhiri surat dari Bandung dengan kalimat yang kurang lebih sama.
Aku merasa tidak harus membayangkanmu terus-menerus. Berkali-kali aku disergap rasa malu bercampur ragu. Berkali-kali aku merasakan sensasi setiap usai membaca suratmu. Ini tidak adil. Aku telah meletakkan bayanganmu dengan hati-hati pada pojok hati terdalam. Seolah-olah engkau demikian dekat dan istimewa. Padahal bisa saja surat demikian berbeda dengan kenyataannya. Kamu pelukis terkenal, aku hanya seorang gadis kecil yang kebetulan menyukai lukisan — mungkin salah satu dari sekian penggemarmu. Apalagi menurut Dhani, seniman pada umumnya romantis — Dhani selalu mimpi memiliki pacar seorang seniman.
Karenanya, pada liburan kuliah, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak terbang ke Bandung. Dan di sinilah kita, di bawah ruas hujan yang tajam mengilat, di sepanjang Braga.
"Entah kenapa, Braga senantiasa menjadi obsesiku. Setiap menyusuri Braga, aku selalu merasakan suatu ekstasi, menemukan dorongan kuat untuk terus melukis," katamu.
Barangkali Braga memang punya magis buat kita. Kamu dan aku betah menghabiskan hampir seluruh siang dan malam di Braga. Menikmati sekoteng, mendengarkan Braga Stone, mencermati sejumlah kerajinan tangan, mencuri baca di toko buku, menongkrongi kakilima, dan terus menyusur ke ujung: Gedung Konferensi Asia-Afrika....
Lalu balik lagi, dan berhenti. Karena gerimis menjelma hujan lebat. Kabut mengental menutup sebagian langit Bandung. Lampu-lampu berpendar lesi. Ini malam terakhir, dan aku harus pulang ke Makassar pagi-pagi esok. Saat itulah, kamu merangkulku untuk membagi hangat, dan sebagai tanda perpisahan... mencium pipiku di depan toko souvenir yang telah tutup....
Kala itu, dan kini, kurasakan hawa panas menjalari wajahku. Selama sembilanbelas tahun usiaku, itulah kali pertama aku merasakan dicium oleh seorang lelaki. Batinku ribut. Sementara seluruh ubin yang kuinjak telah menjelma menjadi gurun salju. Peristiwa itu sepuluh tahun lalu. Tapi tidak pernah lamur. Ia abadi dalam kanvas. Lukisan Sepanjang Braga inilah yang menjadi tema pameran tunggalmu kali ini. Lukisan yang menggambarkan suasana Braga di bawah guyuran hujan lebat, ketika seluruh cahaya menjadi pias, dan sunyi demikian meraja. Lukisan yang mengabadikan peristiwa itu: seorang lelaki merunduk mencium....

Aku membuang pandang dengan batin gelagapan, mencari-cari lelaki yang tadi ikut mengagumi lukisan adikaryamu itu. Ia telah menghilang. Susah payah, aku beringsut, menjauhi gambar yang nyaris menyulapku menjadi arca....
"Mengapa masih juga sendiri?" Pada langkah berikutnya, suaramu dari masa lampau kembali mengiang.
Kutelan ludah ketika kurasakan sebuah pusaran besar kembali menyeretku ke tengah. Lukisan berikutnya berjudul 'Kayu Bengkoang'. Sebuah tenda kakilima yang menyajikan seafood di pesisir Losari, Makassar. Ada dinding toko yang menjulang di kiri-kanannya. Meja-meja diletakkan memanjang. Pada salah satu bangku belakang kita pernah mengobrol berdua, mengais-ngais kenangan yang tersisa dari Braga.
Jauh di belakang hari, saat usiaku nyaris duapuluh, Arie — teman kuliahku sering menyangsikan, "Belum pernah pacaran?" Matanya meledek.
Aku harus bilang apa? Kenyataanya, aku memang belum bisa mengidentifikasi seperti apa sebetulnya mencintai itu. Sampai suatu ketika seorang laki-laki jangkung tiba-tiba berdiri di depan pintu ruang tamu. Ia teman kakakku. Ia juga menyapaku dengan kalimat, "Halo, Adik Manis!" Dan kurasakan, hawa Braga menguar di seputarku.
Ia mirip kamu. Setidaknya, kamu dalam bayangan idealku. Kalian pun sepantar, tujuh tahun di atas usiaku. Begitu banyak persamaan yang kujumpai. Sampai akhirnya aku memutuskan: aku tidak selamanya harus menjadi ledekan Arie.
Saat itulah kamu mengabariku cerita yang berbeda dari biasanya. "Barangkali aku tengah jatuh cinta sekarang," tulismu. "Kami sudah bertemu duapuluhdelapan kali, tapi baru tiga kali berbicara. Cinta platonis?"
Kutahan ceritaku sendiri tentang sosok jangkung itu. Aku bilang, "Aku senang mendengarnya. Mas harus berusaha terus, nggak boleh nyerah."
Hampir satu tahun berikutnya, aku mendapatkan sebuah undangan warna sepia yang dikirim dari Bandung, berlatar lukisan. Aku terpana justru bukan karena undangan itu dirancang demikian artistik, tapi oleh sebuah keajaiban cinta. Aku pikir, ternyata demikian sederhana prosesnya. Jatuh cinta, dan kemudian menikah. Tapi aku tidak merasakan kehilangan. Mungkin karena sosok jangkung yang membungkus bayanganmu itu sangat rajin meronce mimpi dalam tidurku.
Barangkali juga karena jarak kita jauh. Atau, karena aku tidak pernah berani memberikan tempat bagi pikiran yang ingin mencoba menganggapmu lebih dari seorang kakak.
Nyatanya, tidak semua cerita cinta itu mulus. Ada yang rumit, menurutku. "Kami hampir bertunangan, tapi akhirnya memilih berpisah. Empat tahun akhirnya seperti sia-sia," tuturku di puncak nyeri. Saat itu kita di 'Kayu Bengkoang', dan kamu menemukan airmata dalam suaraku.
"Tidak ada yang sia-sia. Setiap persoalan menyembunyikan hikmah," tatapanmu teduh. "Hanya, kalau boleh Mas tahu, kenapa memilih berpisah?"
Naif jika kini aku masih memirip-miripkan kalian. Karena, ternyata dia yang kukenal demikian cupat dan posesif. Mungkin aku mencintainya sungguh-sungguh. Tapi tidak sanggup menjadi bara yang memanaskan tungku kecemasan agar terus menyala. Aku merasa dunia terlalu luas jika hanya dilewatkan berdua.
"Mestinya ada suatu titik temu yang bisa dicari!" tukasmu.
Ya, mestinya....
Aku menggigit bibir. Bertepatan dengan itu, seseorang menyenggol lenganku, melontarkan aku keluar dari pusaran lukisan. Dalam sekejap, 'Kayu Bengkoang' lepas dari bayangan. Ketika menoleh kembali, lukisan itu telah diam. Kerongkonganku perih. Lalu kurasakan, suhu udara meningkat dalam ruang pamer seiring dengan kian bekunya seluruh sendi-sendi tulangku. Pengunjung masuk tanpa putus.

"Aku capek...," kesahku perih. Puluhan lukisan berikutnya adalah potongan-potongan episode yang demikian akrab dengan catatan harianku. Juga ketika aku harus patah hati untuk kedua kali. Dan kamu mengabadikannya dalam lukisan di bawah judul 'Kidung Ungu'.
"Aku capek, Mas!"
"Tidak boleh seperti itu! Aku percaya kamu kuat. Kamu harus yakin bahwa begitu banyak orang yang mengasihimu," tanganmu terulur menyentuh pipiku.
"Aku kehilangan lagi...."
"Tapi tidak semua. Ada yang bahkan kehilangan semuanya!"
Aku mencari matamu. Dan kamu mengangguk tulus. Lalu, tiba-tiba saja aku ingin menangis di dadamu....
Aku terus menyeret langkah. Kurasakan seluruh dinding bergoyang. Lampu-lampu benderang. Seluruh wajah dalam lukisan seketika menjadi hidup. Aku berlari dari satu peristiwa ke peristiwa berikutnya. Menikmati tawa, canda, dan airmata. Sampai akhirnya seluruh warna-warni mengalami konvergensi, membentuk episode yang utuh. Aku mendengar suara-suara masa lalu kian nyaring memanggil. Aku terseret lagi ke tengah pusaran, terengah, dan akhirnya tersesat pada lukisan keseratus. Pada lukisan terakhir itu, kutemukan garis wajahku yang utuh. Di bawahnya terdapat coretan: seluruhnya kudedikasikan padamu. Adakah yang melebihi kekuatan dan dorongan untuk berkarya, kecuali cinta?
Kurasakan tubuhku bergetar hebat.
Gigil tak menyiasakan sedikit pun ruang yang bisa menyodori hangat. Tapi, leherku melelehkan peluh. Dan, tiba-tiba aku mengendus aroma Braga yang kental. Aku merasakan suatu ekstasi ketika membayangkan kembali rengkuhanmu di sepanjang jalan, merasakan ciumanmu....
"Terima kasih karena kamu mau datang...," pemilik seratus lukisan itu — kamu — tiba-tiba telah berdiri di hadapanku.
"Aku...," seluruh jemariku basah dalam genggaman.
"Mas mohon maaf karena menggelar pameran ini tanpa seizinmu...."
Aku menggeleng-geleng. "Aku...," kusembunyikan mataku yang merebak. Sendi-sendiku serasa makin ngilu.
"Kamu berhak untuk protes!" Kamu mencari mataku.
Dan ketika kudengar suara Baby, gadis kecil yang dulu pernah kamu kirimkan potretnya saat masih bayi. Suaranya yang runcing dan riang membelah perhatian, memanggil-manggil ayahnya. Aku menyalaminya, sebelum akhirnya kuputuskan untuk segera melarikan diri dari tempat itu.
Aku tahu, saat ini kita tidak boleh terlibat lebih jauh. Cinta boleh datang dan pergi tanpa harus saling melukai. Hati manusia mungkin seperti jagat raya, yang mampu membagi dirinya dalam sejumlah dimensi musim. Aku tahu, kamu bukan tidak sedang mencintai perempuan yang melahirkan Baby.
Kalau ada hal yang patut kusesali saat ini, satu-satunya adalah: mengapa hanya untuk menumbuhkan sebuah kesadaran tentang cinta, mesti diperlukan waktu sepuluh tahun dan seratus buah lukisan?

bersambung..

07 Februari 2010

ayAh..,

assALamualaikum...
saat q jAbat tanganmu..
hati b'getar..,
perasaan rindu..,
terobati melihat dirimu,...

kAu berikan nasihat..,
dan akAN Q ikuti..,
sedih hAti ini melihAtmu.., merAsakan cobAan, penderitaan,.. aQ hanya bisA bersedih.., m'lihatmu.., menahan air mata..,
aku m'nYesAL..!! kARena eNgkau mELAKukAN apA sAja demi membAhagiakan aQ..., siANG, mALam, hujan, panas, sakit, mAupun sehAt.,. engkAU m'ncARi sesUAp nASi untUk m'bAhagiakan aQ.., ayAh.., jASAmu... tAk akAN bisA terBALaskAN..,

05 Februari 2010

tips rayuan gombal

Sekedar pengantar aja, bahwa sebenernya para wanita sudah tau kalo para pria itu sukanya ngobral kata-kata gombal, tapi yang bikin heran ternyata wanita suka dikasih kata-kata gombal. Mungkin memang dasarnya wanita seneng dipuji dan diberi kata-kata manis ya.

Nah buat para cowok yang suka mengumbar kata-kata gombal, nih ada stok kata-kata gombal baru dari forum yang saya ikuti. Segera siapkan handphone Anda dan mulailah menebar gombalan-gombalan maut ini, semoga sukses..hahahaha…

• Kalau kamu nanya berapa kali kamu datang ke pikiranku, jujur aja, cuma sekali. abisnya, ga pergi-pergi sih!

• Tadi malam aku kirim bidadari untuk menjaga tidurmu. Eh, dia buru-buru balik. Katanya, ‘Ah, masa bidadari disuruh jaga bidadari?’

• Kalau suatu saat kamu hancurkan hatiku… akan kucintai kamu dengan kepingannya yang tersisa.

• Sempet bingung juga, kok aku bisa senyum sendiri. Baru nyadar, aku lagi mikirin kamu.

• Ga usah janjiin bintang dan bulan untuk aku, cukup janjiin kamu bakal selalu bersamaku di bawah cahayanya.

• Berusaha melupakanmu, sama sulitnya dengan mengingat seseorang yang tak pernah kukenal.

• Kalau kamu ajak aku melompat bareng, aku ngga bakalan mau. Mending aku lari ke bawah, bersiap menangkapmu.

• Aku pernah jatuhkan setetes air mata di selat Sunda. Di hari aku bisa menemukannya lagi, itulah waktunya aku berhenti mencintaimu.

• Kalau kamu nanya mana yg lebih penting buat aku: hidupku atau hidupmu, aku bakal jawab hidupku. Eits, jangan marah dulu, karena kamulah hidupku.

• Pertama ketemu, aku takut ngomong sama kamu. Pertama ngomong sama kamu, aku takut kalau nanti suka sama kamu. Udah suka, aku makin takut kalau jatuh cinta. Setelah sekarang cinta sama kamu, aku jadi bener2 takut kehilangan kamu. Kamu emang menakutkan!

• Ketika hidup memberiku seratus alasan untuk menangis, kau datang membawa seribu alasan untuk tersenyum.

• Jika aku bisa jadi bagian dari dirimu, aku mau jadi airmatamu, yang tersimpan di hatimu, lahir dari matamu, hidup di pipimu, dan mati di bibirmu

• Orang bilang bulan itu indah…tapi aku bilang tidak. Orang bilang planet venus itu cantik…tapi menurut aku tidak. Aku bilang bumi itu indah dan cantik…karena ada kamu.

Selamat mencoba, dan semoga sukses. Saya yakin minimal target Anda bakal bales sms dari Anda, soal apa isi balesan sms dari target Anda itu saya tidak berani jamin...hahahaha

03 Februari 2010

menjagamu

sAat Q,. m'LihAt diRimu... bAhagia dgnya, kAu b'cnda tAwa manja b'sma dgnya... aQ harus mnerima kenyataan tak sejalan dgn keinginan hati ini yg memaksa untuk memilikimu..., akankah kau jd milik Q., kan Q jaga dirimu slalu stiap waktu Q hanya untukmu., m'jagamu dlm setiap hembus nafasku...,